Beranda > Inspirasi, Motivasi > Bedanya Kuliah di Perguruan Tinggi dan Kursus (Pelatihan)

Bedanya Kuliah di Perguruan Tinggi dan Kursus (Pelatihan)

Teguh Sulistyanta

Teguh Sulistyanta

Pernahkah terfikir, apa sih bedanya kuliah dengan kursus biasa? Toh, dengan kursus kita juga bisa dapet materi seperti yang diajarkan di perguruan tinggi? Misalnya: belajar pemrograman atau jaringan komputer. Tidak perlu repot-repot mendaftar, menghabiskan banyak uang dan waktu di perguruan tinggi. Jika ingin menguasai dua hal tersebut, cukup cari tempat pelatihan dan kursus yang bonafit, dijamin dalam 2-3 bulan anda akan menguasainya.

Ada banyak hal yang tidak bisa kita dapat di tempat kursus. Pembentukan kepribadian, pembentukan soft-skill (seperti pidato, orasi, cara berkomunikasi, dll), membangun relasi adalah beberapa hal yang tidak bisa anda dapat di tempat kursus.

Tempat kursus lebih condong ke pelatihan (hardskill), sedangkan kampus adalah tempat pembinaan dan pendidikan karakter (softskill) dan kompetensi (hardskill) secara sekaligus. Dari sini lahir istilah terlatih vs berpendidikan. Terus apa bedanya?

Kalau anda hanya sekedar terlatih, berarti anda hanya sekedar mengulang-ulang apa yg telah diberikan. Sedangkan pendidikan kampus tidak hanya menitik beratkan pada keahlian-keahlian teknis, tapi juga pembentukan karakter dan mental peserta didiknya. Ada transfer of knowledge disana, ada nilai-nilai yg berusaha diterapkan melalui sebuah proses pembelajaran.

Kalo ada kampus ko’ cuma berfikir tentang keahlian teknik dan melupakan pembentukan karakter, apa bedanya dengan (mohon maaf) kebun binatang, tempat penangkaran atau pelatihan gajah. Kita bisa menyebut gajah yg pintar dengan sebutan “terlatih”, bukan “terdidik”. Begitulah yg terjadi dengan lulusan yg hanya memiliki keahlian teknis tanpa karakter yg kuat. Kalau sudah begitu, bisa jadi kepintarannya hanya digunakan untuk “minterin” orang dan mengambil keuntungan haram sebanyak-banyaknya.

Nah, berkaitan dengan itu, seorang dosen sebenarnya punya beban yang cukup berat. Tugasnya bukan cuma ceramah di kelas, menjadi narasumber, konsultan atau melakukan riset yang WOW dan membanggakan. Tapi lebih dari itu, ia harus bisa melakukan transfer knowledge terhadap mahasiswa, mengarahkan dan mendidik mahasiswa agar tidak hanya cerdas tapi juga disiplin, jujur dan berani. Bukankan mahasiswa model begini yang saat ini Indonesia sangat butuhkan sekarang? Tapi, bagaimana caranya?

Jangan lupakan “proses”. Aturan yang lebih ketat pada kuliah dan tugas akan membentuk karakter mahasiswa. Sebagai contoh yang sering saya terapkan dikelas:

  1. Tugas dikerjakan berkelompok, minimal 2 orang dan maksimal 2 orang.
  2. Antara satu kelompok dan kelompok lain jawaban tidak boleh sama. Karena saya mengampu matakuliah pemrograman yang memerlukan logika untuk menjawab, jadi satu kelompok dengan yang lain tidak mungkin ada jawaban yang sama, karena isi otak manusia pasti beda. Diskusi antar kelompok boleh, namun ketika menjawab tidak boleh asal copy-paste-modify.
  3. Tugas dikumpulkan tepat waktu (Jam, menit, detik harus tepat). Biasanya dikumpulkan paperless, bisa lewat email atau dokumen elektronik lainnya (Go Green).

Jika ada ada salah satu point yg dilanggar (kecuali point a), maka tugas tidak diterima. Apakah ini disebut keras & kejam? Bukan, itu namanya tegas karena benar. Keras belum tentu benar, tapi untuk menyampaikan kebenaran kadang-kadang harus sedikit keras, jadi harus dibedakan. Dengan begitu mahasiswa akan mengerjakan tugas dengan jujur dan penuh motivasi. Kalaupun mereka tidak bisa atau memerlukan bantuan, mereka tidak hanya sekedar copy-paste, tapi mengusahakan belajar kelompok terlebih dahulu. Baik dengan sesama teman satu kelompok atau antar kelompok. Dengan cara seperti itu mahasiswa diharapkan menjadi lebih disiplin, jujur, bertanggung jawab serta mempunyai kemampuan komunikasi yang baik.

Oleh karena itu, tugas dan final project harusnya diberikan proporsi yang lebih besar pada komponen penilaian akhir. Karena disanalah proses pembelajaran itu terjadi. Proses pembelajaran seperti ini membutuhkan waktu, pikiran, tenaga, dan juga perjuangan. Yang itu semua harus kita hargai. Bandingakan dengan UTS dan UAS yang waktu evaluasinya hanya dalam hitungan jam saja.

Kemudian untuk menghindari kecurangan lain, misalnya “titip absen”, dsb. Sebaiknya absensi tidak dimasukkan kedalam komponen penilaian akhir, karena akan memancing mahasiswa untuk “titip absen”. Biasanya dosen memasukkan kehadiran mahasiswa sebagai salah satu komponen penilaian akhir. Memang tidak salah, karena mungkin sang dosen berfikir bahwa kehadiran mahasiswa dikelas termasuk kedalam proses pembelajaran. Sialnya, dengan keadaan seperti ini, pemikiran dosen yang mulia tersebut kadangkala dimanfaatkan mahasiswa yang tidak bertanggung jawab demi menyelamatkan nilai dengan cara “nitip absen”. “Ya, itung-itung nambahin nilai lah”, begitu pikir mahasiswa tipe ini.

Awalnya sih cuma iseng atau coba-coba doang nitip absen, biar disangka mahasiswa yang rajin. Tapi lama-lama jadi asyik dan ketagihan, bisa seenaknya meninggalkan kuliah, tapi absensi tetap terjaga. Lama kelamaan ini jadi sifat dan membentuk watak seseorang. Karena sifat seseorang itu biasanya tidak dibentuk dengan tiba-tiba, tapi melalui proses yang bertahap dan panjang. kalau toh harus meninggalkan kuliah, kenapa juga harus “nitip absen”.

Meninggalkan kecurangan-kecurangan seperti ini tidak akan dapat dilakukan kecuali oleh mahasiswa yang jujur dan ikhlas. Yang paling penting semuanya sudah kita kerjakan (ikhtiar) secara baik dan maksimal, masalah hasil dan nilai akhir sudah ada yang menentukan. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang diinginkan, ia sudah siap dan tetap berprasangka baik. Karena Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuknya. Bukankah sesuatu yang kita anggap buruk kadangkala justru itu yang terbaik buat kita?

Jika masih ada mahasiswa kuliah hanya mementingkan nilai dan IP? Sehingga hal-hal yang esensial seperti kejujuran, tanggung jawab dan keutamaan menuntut ilmu disisihkan begitu saja? Saya rasa anda sudah tahu jawabannya, coba tanyakan pada diri kita masing-masing.

Kategori:Inspirasi, Motivasi
  1. NN
    2 April 2013 pukul 3:14 pm

    Nice !

  2. cp
    16 April 2013 pukul 2:36 pm

    Hwalah…. Metu tenan iki judule… (Y)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: