Beranda > Akademika, Curhat > Saya Prihatin!

Saya Prihatin!

Nyontek

Nyontek

Prihatin. Hanya itu yg bisa saya ungkapkan melihat kenyataan yg saya temui hari ini. Sedari pagi, hingga tengah malam menjelang, saya mengoreksi jawaban quiz mata kuliah yang saya ampu. Kenyataannya, ada satu kelas yg dimana mahasiswanya hampir setengahnya saling contek menyontek. Bayangkan! Hampir setengah kelas! Ini rekor paling parah yg saya temui selama saya mengajar.

Lantas terbersit sebuah pertanyaan didalam diri. Sebenarnya apa yg salah? Apakah Indonesia sudah begitunya parahnya? Kecurangan, saling contek sudah jadi budaya. Yah,, budaya.. Sekali lagi budaya! Orang-orang tidak merasa bersalah sama sekali. Curang ko’ jadi budaya, malu sekali rasanya. Saya bukan tipe orang yang bisa adem ayem membiarkan sebuah tindakan yang melenceng.

Sebagai seorang pendidik, saya merasa gagal. Padahal mati-matian saya telah berusaha dengan segala kemampuan menghentikan kebiasaan ini, kebiasaan curang ini. Mulai dari membangun sistem penilaian, cara menyampaikan materi kuliah sampai dengan memotivasi diri mahasiswa.

Sistem penilaian saya buat sangat tegas namun transparan. Absen tidak saya masukkan dalam formula penilaian, karena seringkali memicu kecurangan titip absen. Kecurangan contek menyontek dan plagiarism dikenai hukuman pengurangan sampai 100%. Bukan main, sangsi ini sangat keras. Di akhir semester semua nilai mahasiswa saya buka tanpa terkecuali, tanpa dikurangi dan tambahi sedikit-pun. Karena saya upload, mereka bisa melihat hasil pendidikan mereka selama satu semester. Andaikan kurang puas, mahasiswa dapat menemui saya langsung untuk konfirmasi. Arsip-arsip yang berkaitan dengan mereka akan saya siapkan sebagai bahan kroscek.

Penyampaian kuliah saya buat se-enjoy dan se-relax mungkin, seringkali disertai guyon. Sampai-sampai mahasiswa memberi julukan saya sebagai seorang stand-up comedian. Suasana nyaman yg dibangun di kelas dan mengudang diskusi tersebut diharapkan materi dan ilmu yg disampaikan terserap secara maksimal, yg pada akhirnya diharapkan mengurangi tindakan plagiarism.

Saya selalu tekankan, biasakanlah belajar kelompok. Bentuklah kelompok belajar 3-4 orang, carilah rekan dengan semangat yg sama. Bahan dan materi kuliah sudah ada, tinggal download di web dosen. Mana saja materi yang belum jelas silakan di diskusikan, sharing satu sama lain, sampai semua paham. Jika belum paham juga, silakan lempar pertanyaan di group FB kita. Disana ada temen-temen asisten dan mahasiswa lain yg siap membantu. Namun saya rasa, mahasiswa hanya menganggap nasehat tersebut sebagai angin lalu.

Pernah juga ada yg bilang: Jangan samakan mereka dengan mahasiswa dari kampus negeri dong. Saya akan bilang: hei Bung! Jangan remehkan mahasiswa kita. Mahasiswa dari kampus negeri sebenarnya tidak lebih pintar dari kita. Hanya saja, mereka belajar lebih giat, bekerja lebih keras, tidur lebih sedikit dari kita, bahkan sampai tidak tidur adalah hal yang sudah biasa. Ini yg tidak kita temui dari mahasiswa kita. Saya sering sampaikan ke mahasiswa: Kalian itu bisa, apalagi di dukung fasilitas yg sangat komplit, yg bahkan mahasiswa dari kampus negeri tidak punyai. Kalian hanya perlu mencoba!

Lantas mengapa semua ini masih saja terus terjadi? Apakah karena ini kampus swasta? Apakah karena sistem? Ataukah karena efek pendidikan Indonesia yg  berbasis materialisme? Sukses cuma dilihat dari nilai, lulus sekolah ditentukan dari Ujian Nasional! Untuk meraih tujuan, semua orang menutup mata. Curang? Ora popo.. “Pokoknya” lulus, “Pokoknya” dapet nilai bagus, “Pokoknya” kaya, “Pokoknya” jadi PNS, “Pokoknya” jadi karyawan. “Pokoknya”, “Pokoknya”, “Pokoknya”. bla. bla. bla. bla…

Ah… Sudah bosan rasanya menyebut semua kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Beratus lembar kertas rasanya tidak cukup menulis semua keluhan. Esok, saya hanya bisa berusaha kembali, semampu dan sekuat tenaga mengubah budaya ini. Kita berdoa, semoga saja suatu saat Indonesia bebas dari budaya macam ini. Paling tidak orang merasa malu jika melakukan sebuah kecurangan. Semoga, semoga saja. Aamiin..

Kategori:Akademika, Curhat
  1. 19 Mei 2013 pukul 7:10 am

    mungkin saya sudah berusaha memahami tapi saat praktek pun di jalankan logika saya terbatas untuk memahaminya saya terus mencoba hingga larut malam.. mungkin ada saran untuk mengasah penalaran dan logika mungkin dari pengalaman bapak atau semasa kuliah dulu..

    • 19 Mei 2013 pukul 3:25 pm

      Kerja keras, bentuk kelompok belajar Mas, jangan bosan-bosan bertanya. InsyaAlloh dengan begitu ilmu lebih diserap. Semangat!

  2. chafid cah uin jogja
    2 Maret 2014 pukul 11:01 pm

    terimakasih atas pengalaman nya, saya izin share di grup jurusan saya, saya sertakan identitas saudara juga, untuk kebaikan … terimakasih banyak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: