Beranda > Curhat, Nasehat > Jalanan dari Keramik

Jalanan dari Keramik

Infrastruktur yg baik bisa dikatakan sebagai salah satu indikator kemajuan pembangunan di sebuah daerah. Siapa yg ga seneng kalo jalan di kota tempat kita tinggal di aspal dengan sangat mulus. Cobalah maen ke Yogyakarta, jalanan rusak adalah haram hukumnya. Semua jalan yg ada di sini mulai dari jalan utama sampai masuk ke gang kecil semuanya tidak luput dari pengerasan jalan dengan aspal. Terutama pada arus utama, jalan disini sudah seperti porselen, ini jalan apa keramik sih😀

Namun jika ente tinggal di Yogyakarta sedikit lebih lama, ente pasti menjumpai satu fenomena menarik. Yaitu: jalan yg terlihat masih mulus-mulus saja, akan kembali di aspal. Bahkan jika perlu, dikerik dulu, baru kemudian diaspal lagi. Namun tidak sedikit yg langsung diaspal begitu saja tanpa mengeriknya.

Jujur ane ga pernah paham alasan dibalik peng-aspalan berulang-ulang ini. Tidak pernah ada edukasi dari pemerintah terkait (dalam hal ini mungkin dinas PU) kepada masyarakat, tidak pernah ada sosialisasi untuk menjelaskan kebijakan ini. Akibatnya apa? Banyak masyarakat yg menilai kegiatan tersebut hanya untuk cari proyek, menghabiskan anggaran, buang-buang duit, cari komisi, dll. Wong jalan masih bagus ko’ diaspal lagi!? Khan aneh!

Satu hal yg cukup mengganggu: yaitu dengan peng-aspalan ulang, otomatis membuat badan jalan akan sedikit lebih tinggi. Tapi kalau kita perhatikan lubang-lubang penutup selokan bawah tanah, atau tempat pembuangan air yg ada ditengah-tengah jalan seringkali tidak ikut ditinggikan. Hal ini menjadi kontradiktif,akibatnya selesai peng-aspalan ulang, jalanan seperti berlubang, tidak rata, dan menjadi sangat berbahaya bagi para pengguna jalan. Apalagi kalau lubang-lubang ini ada ditengah jalan, seperti yg banyak kita jumpai di Jalan Taman Siswa. Ini maksudnya apa sih? Ngaspal jalan kaya ga serius, jalanan dan aspal doang yg diurusin. Sarana pendukung yg berhubungan langsung ga diurus sama sekali! Ini seperti kita ingin menyelesaikan satu permasalahan tapi malah menciptakan masalah lain.

Kita semua pasti sepakat jika jalanan yg ada sekarang ini sudah lebih dari cukup, apalagi jika dibandingkan dengan jalanan di luar Yogyakarta, lebih-lebih di luar pulau Jawa. Jadi tidak perlu lah harus sering-sering diaspal ulang seperti itu. Namun, kalau dirasa memang peng-aspalan jalan merupakan hal yg mendesak, ada baiknya dinas terkait juga melakukan sosialisasi kebijakannya, ini menghindari masyarakat agar tidak salah paham. Juga pengerjaannya harus lebih serius dan tuntas, jangan sampai ada “lubang” yg berbahaya diakibatkan dari tidak ratanya pengaspalan.

Namun jika tidak mendesak, ada baiknya anggaran tersebut, yg nilainya ane yakin diatas “Miliar”, disalurkan ke pos-pos lain yg lebih membutuhkan. Masalah kemiskinan, pendidikan dan kesehatan ane rasa tidak kalah mendesak untuk segera diatasi.

Semoga yg sedikit ini bisa jadi koreksi buat pihak pemerintah, syukur-syukur ada bagian dari pemerintah terkait yg baca. Bisa jadi sedikit cuhat ini jg mewakili suara temen-temen yg lain🙂 Selamat berpuasa ^^

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: