Beranda > Guyon, Inspirasi, Nasehat, Selingan > Salah Pidato Sang Pejabat

Salah Pidato Sang Pejabat

Senyuuummm

Senyuuummm

Tersebutlah seorang pejabat di sebuah negara. Pejabat negara ini kemana-mana selalu ditemani ajudan, maklumlah orang penting. Suatu hari pejabat tersebut berkesempatan meresmikan sebuah Pabrik Tekstil. Sampailah tiba saatnya sang pejabat untuk berpidato membuka sekaligus meresmikan pabrik tersebut. “Dengan ini saya resmikan Pabrik Tektil”, begitu pidato sang pejabat.

Merasa ada yang tidak beres, sang ajudan yang ada di belakangnya buru-buru memberitahu sang pejabat bahwa ada kata-kata yg kurang pas. “Pak-pak, kurang S-nya”, ujar si ajudan setengah berbisik membetulkan kata “tektil” yg seharusnya “tekstil“.

Sejurus kemudian, dengan tak kalah buru-burunya, sang pejabat kemudian mengklarifikasi pidatonya yang barusan: “Oiya, dan sekalian saya resmikan Pabrik Es”.


Hehehe, cerita tersebut diatas adalah sebuah humor cerdas. Mengapa dikatakan cerdas? Karena sebenarnya ada “pesan khusus” yang dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama. Bahwa kita tidak boleh asal saja mempercayai sebuah kabar, kemudian menyebarkan berita tersebut kemana-mana tanpa klarifikasi atau melakukan cek dan re-check tentang berita tersebut dari sumber langsung atau yang berkompeten, tabayyun begitu bahasa agamanya.

Dalam kitabNya, Alloh Swt. berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [QS. Al Hujurat : 6]

Apalagi zaman seperti sekarang ini, dimana kekuatan media begitu mempengaruhi pola pikir masyarakat dengan dahsyatnya. Banyak orang tertipu mentah-mentah oleh berita, opini dan pencitraan yang mereka bentuk. Yang benar jadi salah, yang salah bisa menjadi benar. Penjahat, bila dipoles sedemikian rupa bisa jadi pahlawan.

Media tidak lagi netral, media juga punya kepentingan sendiri. Tidak usah jauh-jauh, kita bisa lihat media televisi kita. Banyak dari mereka dikuasai elit partai tertentu, menjadi corong kampanye berlebihan mereka, menjadi jongos nafsu duniawi. Berita yang disampaikan tak jauh dari “mendewakan” majikan mereka dan menjatuhkan lawan politiknya. Belum lagi kalau kita bicara tentang kepentingan pemilik media pada bisnis, pertambangan sampai dengan isu agama.

Nah saudaraku, agar kita tidak termasuk orang yang menimpakan musibah dan fitnah terhadap diri orang lain, mulai saat ini kita harus lebih berhati-hati dalam menerima sebuah berita. Apakah berita yang disampaikan itu benar-benar fakta atau hanya opini buatan redaksi, atau jangan-jangan kita sendiri yang salah memahami berita tersebut?

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: